
Sebaik apa pun upaya pencegahan di kandang, kenyataannya tidak ada peternakan yang 100% bebas dari ancaman mastitis. Pasti akan ada masa di mana sapi menunjukkan tanda-tanda ambing bermasalah. Saat hal ini terjadi, yang menentukan besar-kecilnya kerugian bukan lagi soal pencegahan, melainkan seberapa cepat dan tepat Anda bertindak.
Semakin cepat ditangani, semakin kecil risiko kerusakan permanen pada jaringan ambing sapi. Berikut adalah panduan praktis dan runut yang wajib dilakukan saat sapi terlanjur terkena mastitis.
- Kenali Tingkat Keparahan Mastitis
Begitu ada tanda mencurigakan seperti ambing bengkak, susu menggumpal, atau hasil tes CMT mengental, segera pastikan tingkat keparahannya. Penanganan setiap fase sangat berbeda:
- Ringan: Hanya bentuk susu yang berubah (menggumpal, encer, atau berwarna aneh). Ambing masih terasa normal saat diraba, dan sapi masih lahap makan.
- Sedang: Ambing mulai membengkak, kemerahan, terasa hangat, dan sapi merasa nyeri saat putingnya disentuh. Namun, secara umum sapi masih terlihat sehat dan mau berdiri.
- Berat (akut): Ini adalah kondisi darurat. Ambing sangat bengkak dan keras, sapi demam tinggi, lemas, tidak mau makan, bahkan bisa ambruk. Kondisi ini bisa mengancam nyawa karena bakteri melepas racun ke aliran darah. Jangan ditunda sampai besok, segera panggil dokter hewan!
Jika memungkinkan, ambil sedikit sampel susu dari puting yang sakit (setelah puting dibersihkan dengan alkohol) dan simpan di kulkas sebelum sapi diobati. Sampel ini bisa diuji di laboratorium agar dokter tahu pasti bakteri apa yang menyerang dan antibiotik apa yang paling mempan.
- Hindari Mengobati Sendiri Tanpa Arahan Dokter Hewan
Godaan terbesar di lapangan adalah membeli antibiotik sendiri di toko dan menyuntikkannya dengan “ilmu kira-kira” atau “kata teman”. Ini sangat berisiko dan justru sering kali membuat rugi, karena:
- Salah obat: Tidak semua mastitis disebabkan bakteri yang sama. Antibiotik yang salah tidak akan menyembuhkan sapi, sementara infeksi terus merusak ambing.
- Bakteri jadi kebal: Dosis atau lama pengobatan yang tidak tepat (misalnya dihentikan karena sapi “kelihatan” sudah sembuh) akan menyisakan bakteri terkuat di dalam ambing. Bakteri ini akan kebal (resisten) terhadap obat, berkembang biak, dan mastitis akan kambuh lebih parah.
- Bingung masa henti obat (withdrawal time): Setiap obat punya aturan masa henti yang berbeda dan wajib dipatuhi agar susu tidak ditolak koperasi.
- Pahami Cara Pengobatan yang Benar
Pengobatan mastitis biasanya menggabungkan beberapa cara, tergantung seberapa parah infeksinya:
- Obat ambing (intramammary): Obat berbentuk salep cair yang dimasukkan langsung ke dalam puting. Ini ampuh untuk mastitis ringan-sedang. Penting: Ujung puting wajib dibersihkan dengan alkohol sebelum obat dimasukkan agar kotoran dari luar tidak ikut terdorong ke dalam.
- Obat suntik (sistemik): Diberikan oleh dokter untuk kasus sedang hingga berat, terutama jika sapi demam. Obat ini menyebar ke seluruh tubuh.
- Obat anti-radang: Berfungsi menurunkan demam dan meredakan nyeri. Jika rasa sakit hilang, sapi akan lebih cepat mau makan dan minum sehingga pemulihannya lebih maksimal.
- Pada puting yang sakit, perah susunya setiap 2-3 jam sekali. Tujuannya untuk membuang bakteri, nanah, dan racun dari dalam ambing. Susu ini wajib dibuang. Membiarkan susu menumpuk di ambing yang sakit justru akan memperparah infeksi.
- Habiskan obat sesuai dosis dan jadwal dari dokter hewan! Jangan pernah menghentikan pengobatan di tengah jalan meskipun sapi sudah terlihat sehat.
- Patuhi Masa Henti Obat (Withdrawal Time)
Masa henti obat adalah waktu wajib yang harus dilewati sejak obat terakhir diberikan, sampai susu sapi tersebut benar-benar bersih dari sisa obat (residu) dan aman disetorkan. Ada beberapa aturan baku yang wajib dipahami peternak:
- Hitung dari dosis terakhir. Jika pengobatan dilakukan selama 3 hari, masa henti obat dihitung setelah suntikan di hari ke-3 selesai, bukan dari hari pertama diobati.
- Tandai sapi yang sakit. Beri tanda mencolok (seperti pita di kaki atau kalung) pada sapi yang sedang diobati. Catat tanggal pengobatan dan kapan susunya boleh disetor lagi. Jika tidak ditandai, dikhawatirkan lupa sehingga susu dari sapi yang sedang diobati tidak sengaja tercampur ke tangki setoran.
- Susu terlihat normal BUKAN berarti bebas obat. Walaupun warna susu sudah putih bersih, sisa antibiotik masih ada di dalamnya dan hanya bisa dicek pakai alat laboratorium.
- Jangan berikan susu ber-residu pada pedet. Ini akan memicu gangguan pencernaan pada pedet dan membuat tubuh pedet kebal terhadap antibiotik di kemudian hari.
Setelah masa henti obat selesai dan sapi dinyatakan sembuh, jangan langsung lepas pengawasan. Lakukan tes CMT ulang untuk memastikan tidak ada infeksi tersembunyi. Jika produksi susu pada puting tersebut turun drastis dan tidak bisa kembali normal, berarti sudah terjadi kerusakan jaringan permanen. Untuk sapi yang mastitisnya terus-menerus kambuh dan tidak mempan diobati, berdiskusilah dengan dokter hewan. Sering kali, mengafkir sapi tersebut atau “mematikan” satu puting yang rusak secara permanen adalah keputusan yang lebih menguntungkan secara bisnis daripada memelihara sumber penularan mastitis di kandang Anda.
Kenapa aturan ini perlu diterapkan dengan ketat? Karena susu yang mengandung antibiotik akan merusak bakteri baik pembuat yoghurt dan keju di pabrik pengolahan. Jika satu ember susu yang mengandung residu antibiotik masuk ke tangki pendingin, seluruh susu di tangki tersebut bisa rusak dan ditolak oleh pabrik. Kerugiannya akan ditanggung bersama oleh seluruh anggota koperasi.
Selain itu, jika susu dengan residu antibiotik dikonsumsi oleh manusia, hal ini dapat membawa dampak kesehatan yang serius. Pertama, sisa antibiotik seperti golongan penisilin dalam susu dapat memicu reaksi alergi mendadak yang membahayakan nyawa bagi orang yang sensitif, mulai dari ruam gatal hingga sesak napas parah. Kedua, dan yang paling mengancam secara jangka panjang, paparan antibiotik dosis kecil secara terus-menerus akan memicu resistensi antimikroba, dimana bakteri dalam tubuh manusia menjadi kebal sehingga infeksi penyakit di kemudian hari tidak lagi mempan diobati dengan antibiotik standar. Terakhir, residu obat ini juga ikut menyapu bersih bakteri baik di dalam sistem pencernaan manusia, yang berakibat langsung pada terganggunya fungsi usus, memicu diare, dan menurunkan daya tahan tubuh konsumen secara keseluruhan.