
Momen sapi melahirkan (partus) tentu menjadi saat yang paling ditunggu-tunggu oleh para peternak. Harapan kita semua pastinya sama: induk selamat, pedet lahir dengan sehat—sebuah ‘jackpot’ tersendiri jika yang lahir adalah pedet betina untuk dijadikan bakalan—serta produksi susu induk nantinya bisa melimpah. Namun, tahukah Anda bahwa momen membahagiakan ini sebenarnya merupakan salah satu titik paling kritis dalam usaha peternakan sapi perah? Penanganan yang tepat pada fase ini bukan hanya soal menyelamatkan nyawa induk dan pedetnya, tetapi juga menjadi salah satu kunci utama yang menentukan tingginya produktivitas susu dan kesuksesan reproduksi induk di masa mendatang.
Kapan Sapi Perah Melahirkan?
Secara umum, sapi perah memiliki masa kebuntingan (gestasi) sekitar 279-287 hari, atau rata-rata 283 hari (kurang lebih 9 bulan 10 hari). Peternak wajib mencatat tanggal inseminasi buatan (IB) atau perkawinan agar dapat memperkirakan tanggal kelahiran (HPL – Hari Perkiraan Lahir). Biasanya, persiapan intensif mulai dilakukan 2-3 minggu sebelum HPL.
Tanda-Tanda Sapi Akan Melahirkan
Peternak perlu mengenali tanda-tanda awal sapi melahirkan agar bisa melakukan persiapan tepat waktu. Sapi yang akan melahirkan biasanya menunjukkan tanda-tanda berikut ini:
- Ambing membesar, tegang, dan puting mengkilap karena kolostrum mulai turun.
- Vulva membengkak, berwarna kemerahan, dan mengeluarkan lendir kental yang menggantung.
- Terjadi relaksasi otot dan ligamen di area panggul; bagian pangkal ekor akan terlihat sangat cekung (jatuh).
- Sapi tampak gelisah, sering melihat ke arah perut, dan menendang-nendang perutnya.
- Nafsu makan menurun drastis.
- Sapi sering memisahkan diri dari kelompoknya dan berulang kali berbaring lalu berdiri kembali.
- Mulai mengejan dan kantong ketuban (seperti balon air) mulai terlihat dari vulva.
Prosedur Penanganan pada Induk yang Melahirkan
Kunci utama saat sapi melahirkan sebenarnya sederhana: pantau dengan tenang. Biarkan prosesnya berjalan secara alami terlebih dahulu, dan jangan terburu-buru turun tangan untuk membantu. Tidak perlu tergesa-gesa menarik pedet jika belum benar-benar diperlukan. Beberapa prosedur sederhana yang perlu dilakukan antara lain:
- Segera pindahkan sapi ke kandang bersalin (maternity pen) yang tenang, bersih, luas, beralas empuk (serbuk kayu atau karpet karet), dan memiliki ventilasi baik.
- Biarkan sapi mengejan secara alami. Kantong ketuban akan pecah dengan sendirinya untuk melumasi jalan lahir. Kaki depan dan hidung pedet seharusnya muncul lebih dulu.
- Intervensi atau penarikan paksa HANYA dilakukan jika terjadi kesulitan lahir (distokia), misalnya:
- Sapi sudah mengejan kuat selama 1-2 jam namun pedet tidak kunjung keluar.
- Posisi pedet sungsang (kaki belakang keluar duluan atau kepala terlipat).
Catatan: Tarik pedet menggunakan tali secara hati-hati, searah dengan posisi sapi berbaring, dan selalu ikuti irama mengejan induk, jangan ditarik paksa saat induk sedang rileks.
- Sediakan air minum hangat dan pakan berkualitas segera setelah induk melahirkan.
- Pantau keluarnya plasenta (ari-ari). Normalnya plasenta akan keluar dalam 12–24 jam. Jangan menarik plasenta secara paksa jika belum terlepas.
- Segera hubungi dokter hewan, terutama jika menemukan adanya kendala/kelainan dalam proses persalinan sapi.
Prosedur Penanganan Pedet Pasca Melahirkan
Begitu pedet lahir, satu jam pertamanya adalah waktu yang paling berharga. Masa kritis ini sering kita sebut sebagai Golden Hour (jam keemasan) yang sangat menentukan kelangsungan hidup si pedet. Karena itu, lakukan langkah-langkah berikut:
- Segera bersihkan lendir dari hidung dan mulut pedet menggunakan tangan bersih atau handuk.
- Potong tali pusar (jika tidak putus secara alami) dengan gunting steril, sisakan sekitar 5-10 cm. Celupkan ujung tali pusar ke dalam larutan Iodine 7%. Langkah ini sangat penting untuk mencegah bakteri masuk ke dalam tubuh pedet.
- Berikan kolostrum (susu pertama induk yang berwarna kekuningan) yang berkualitas tinggi sebanyak 10% dari berat badannya (sekitar 3-4 liter) dalam waktu maksimal 2-4 jam pertama setelah lahir. Pemberian kolostrum ini sangat penting sekali karena pedet lahir tanpa sistem kekebalan tubuh.
- Pindahkan pedet ke kandang individu yang hangat, kering, dan bersih untuk mencegah penularan penyakit dan memudahkan pemantauan konsumsi susu harian.
Keuntungan Menerapkan Prosedur yang Benar
Kalau kita telaten dan mengikuti langkah yang benar saat sapi melahirkan, pada akhirnya akan membawa keuntungan yang nyata bagi usaha ternak kita, antara lain:
- Menekan angka kematian (mortalitas) induk maupun pedet secara signifikan.
- Pemberian kolostrum dan penanganan tali pusar yang tepat menciptakan pedet dengan imunitas tinggi (mengurangi risiko diare akut dan pneumonia), sehingga pertumbuhan pedet menjadi optimal.
- Induk yang melahirkan di lingkungan bersih dan bebas stres akan terhindar dari infeksi, sehingga produksi laktasi langsung melesat naik.
- Sapi akan memiliki kesehatan reproduksi yang baik sehingga rahim cepat pulih (involusi uteri) dan sapi bisa segera diinseminasi kembali tepat waktu.
Kerugian Mengabaikan Prosedur Melahirkan
Sebaliknya, peternak yang mengabaikan prosedur sapi melahirkan yang benar atau membiarkan sapi melahirkan di tempat kotor tanpa pengawasan akan menghadapi risiko berat, seperti:
- Kematian pedet karena mati lemas (asfiksia) di dalam jalan lahir akibat tidak dibantu saat terjadi distokia, atau mati akibat infeksi (navel ill/joint ill, pneumonia, atau diare).
- Induk berisiko tinggi mengalami komplikasi persalinan atau infeksi rahim yang berujung pada Metritis (infeksi rahim bernanah). Hal ini menyebabkan sapi sulit bunting kembali (kawin berulang/repeat breeding).
- Sapi yang mengalami kelelahan atau stress hebat akan kehilangan nafsu makan. Dampaknya, produksi susu akan anjlok drastis selama masa laktasi tersebut.
- Peternak harus mengeluarkan biaya membengkak untuk jasa dokter hewan dan obat-obatan, serta kehilangan potensi pedet sebagai aset pengganti (replacement heifer).