
Bagi para peternak, melihat indukan sapi perah bunting merupakan sebuah kebahagiaan yang mengandung harapan akan lahirnya pedet baru dan produksi yang susu terus berjalan. Namun, bagaimana jika di tengah kebuntingan tersebut, sapi kesayangan malah didiagnosis terkena penyakit Brucellosis (sering kita kenal dengan sebutan penyakit keluron menular)? Apalagi jika penyakit tersebut menyebabkan sapi indukan mengalami keguguran. Kabar ini tentu seperti petir di siang bolong. Dalam keadaan panik dan bingung, tak jarang peternak mengambil dua jalan pintas yang dianggap sebagai “solusi”. Padahal, dua keputusan ini justru menyimpan bom waktu yang sangat berbahaya bagi kita sendiri dan peternak lainnya. Mari kita bedah mengapa dua jalan pintas ini sangat tidak disarankan.
Sayang Anaknya, Biarkan Saja Sampai Lahir!
Skenario pertama, peternak tahu indukannya positif Brucellosis, tetapi karena sedang bunting, sapi tersebut dipertahankan di kandang dengan harapan pedetnya bisa lahir dengan selamat. Faktanya, ini adalah harapan yang bisa berakhir dengan kekecewaan. Bakteri Brucella secara khusus menyerang organ reproduksi sapi. Membiarkan indukan yang sakit tetap berada di kandang sama dengan membiarkan sumber penyakit terus beroperasi.
Kemungkinan pedet lahir dengan sehat dan normal sangatlah kecil. Brucellosis sering kali menyebabkan keguguran pada usia kebuntingan 5-8 bulan. Jika pun pedet lahir hidup, kondisinya biasanya sangat lemah dan memiliki risiko kematian yang tinggi.
Setelah keguguran atau melahirkan, indukan yang terkena Brucellosis sering mengalami retensi plasenta (ari-ari tidak mau keluar). Hal ini memicu infeksi rahim yang parah. Ujung-ujungnya rahim rusak, sapi menjadi majir (tidak bisa bunting lagi), dan produksi susunya akan anjlok drastis. Sapi ini pada akhirnya hanya akan menguras biaya pakan tanpa memberikan hasil. Selain itu, cairan ketuban, ari-ari, dan darah dari sapi yang terinfeksi dipenuhi oleh miliaran bakteri. Saat sapi tersebut melahirkan atau keguguran di kandang, bakteri ini akan mencemari seluruh area kandang dan berisiko menular ke sapi-sapi sehat lainnya.
Biar Cepat Aman, Jual Saja Sapinya!
Skenario kedua, peternak tidak mau ambil pusing. Begitu tahu sapinya positif Brucellosis, sapi tersebut langsung diam-diam dijual ke pasar atau blantik, agar pikiran tenang dan tidak mengalami kerugian.
Faktanya, langkah ini tidak menyelesaikan masalah, melainkan memindahkan bencana ke tempat lain. Bayangkan jika Anda yang berada di posisi pembeli. Membeli sapi yang dikira sehat, namun ternyata membawa penyakit yang menular ke seluruh sapi di kandang Anda. Menjual sapi yang sakit sama dengan mematikan mata pencaharian sesama peternak.
Siklus penyakit Brucellosis menjadi tidak pernah putus. Hari ini sapi sakit dijual ke luar daerah. Besok lusa, bisa jadi tetangga kita membeli sapi sakit dari daerah lain yang akhirnya menularkan penyakitnya kembali ke kandang kita. Jika budaya jual sembunyi-sembunyi ini terus dilakukan, wabah Brucellosis tidak akan pernah musnah dari lingkungan peternakan kita.
Jangan lupa, Brucellosis bisa menular ke manusia melalui susu segar yang tidak dimasak dengan benar atau saat kontak langsung dengan cairan reproduksi sapi. Menjual sapi sakit secara bebas berisiko membahayakan kesehatan peternak lainnya, konsumen, dan masyarakat luas.
Lalu, Apa Solusi yang Benar dan Bertanggung Jawab?
Menghadapi Brucellosis memang pahit, tetapi kita harus berani mengambil langkah yang tepat agar kerugian tidak semakin meluas. Jika ada sapi yang dicurigai atau positif Brucellosis, lakukan langkah ini:
- Segera pisahkan (karantina) sapi tersebut dari sapi-sapi lain yang sehat. Jangan biarkan mereka makan dan minum di tempat yang sama, atau dilayani dengan peralatan yang sama tanpa dicuci bersih.
- Laporkan kepada petugas kesehatan hewan. Dokter hewan atau petugas dari Dinas Peternakan setempat akan memberikan arahan yang tepat berdasarkan hasil tes darah yang akurat.
- Jalan terbaik untuk sapi yang positif Brucellosis adalah dikeluarkan dari peternakan menuju Rumah Potong Hewan (RPH) resmi untuk dipotong bersyarat, di bawah pengawasan dokter hewan. Dagingnya masih aman dikonsumsi jika dimasak dengan benar, namun organ reproduksi dan jeroan tertentu harus dimusnahkan.
Jangan biarkan kepanikan sesaat menghancurkan usaha peternakan yang sudah kita bangun bertahun-tahun. Mari kita putus mata rantai penyebaran Brucellosis dengan tidak mempertahankan sapi sakit, dan tidak menjualnya kepada peternak lain. Peternak yang cerdas adalah peternak yang jujur dan berani mengambil langkah tepat demi kesehatan kandangnya dan kelangsungan industri sapi perah kita bersama.