
Setiap pagi dan sore, rutinitas peternak sapi perah hampir sama, yakni memerah dan menakar susu. Angka di takaran itulah yang menentukan berapa rupiah yang bisa dibawa pulang untuk keluarga. Namun, pernahkah produksi susu tiba-tiba merosot tanpa alasan yang jelas? Sering kali kita menyalahkan kualitas pakan, perubahan cuaca, atau usia sapi. Padahal, biang keroknya mungkin bersembunyi di tempat yang paling jarang kita periksa dengan teliti: ambing.
Peradangan pada ambing, atau mastitis, bukanlah penyakit langka. Penyakit ini sering terjadi di peternakan sapi perah seluruh dunia dan paling banyak menelan biaya. Kerusakannya sering kali tidak kasat mata, membuat kita baru sadar ketika kerugian sudah terlanjur membengkak.
Celah Masuknya Bakteri ke Dalam Ambing
Mastitis bermula dari hal sederhana, yaitu bakteri yang menyusup masuk melalui lubang puting. Bakteri-bakteri ini (Staphylococcus, Streptococcus, E. coli) biasanya ada di lantai kandang yang becek dan kotor, lap pembersih yang dipakai bergantian, tangan pemerah, atau karet mesin perah yang kotor dan jarang diganti.
Ada satu lagi celah fatal yang sering dilewatkan. Setelah pemerahan selesai, otot penutup di ujung puting (sfingter) butuh waktu 20-30 menit untuk benar-benar menutup rapat. Jika sapi langsung rebahan di lantai yang basah dan kotor dalam rentang waktu tersebut, bakteri ibarat mendapat jalan tol masuk ke dalam ambing. Inilah sebabnya sangat disarankan memberi pakan segera setelah pemerahan, agar sapi tetap berdiri sampai putingnya tertutup sempurna.
Jika ada bakteri masuk, tubuh sapi akan melawan dengan mengirim sel darah putih. Sel-sel ini ikut terperah dan diukur sebagai Somatic Cell Count (SCC). Angka SCC yang naik adalah tanda awal bahwa sedang terjadi infeksi di dalam ambing sapi.
Jenis Mastitis
Berdasarkan gejala yang terlihat, mastitis dibagi menjadi mastitis klinis dan mastitis sub klinis. Mastitis klinis adalah bentuk yang mudah dikenali. Ambing tampak membengkak, terasa panas dan keras, serta sapi kesakitan saat diperah. Susunya pun berubah menjadi encer, menggumpal seperti bubur, kadang bercampur darah atau nanah. Pada kasus berat, sapi bisa demam tinggi, berhenti makan, dan ambruk. Bentuk inilah yang biasanya membuat peternak panik dan segera memanggil mantri atau dokter hewan.
Namun mastitis klinis hanyalah puncak gunung es. Di bawahnya ada mastitis subklinis, dan inilah musuh yang sesungguhnya. Pada mastitis subklinis, ambing tampak normal, sapi tampak sehat, susunya tampak putih bersih seperti biasa. Tidak ada satu pun tanda yang bisa dilihat dengan mata telanjang. Tetapi di dalam ambing, peradangan terus berjalan, jaringan penghasil susu terus rusak, dan produksi terus merosot sedikit demi sedikit.
Perbandingannya cukup mengejutkan, untuk setiap 1 ekor sapi yang menunjukkan gejala mastitis klinis, biasanya ada 15-40 ekor sapi lapin di kandang yang menderita mastitis subklinis tanpa diketahui. Artinya, peternak yang merasa “kandang saya aman karena tidak ada yang sakit” sebenarnya sedang merugi setiap hari tanpa sadar.
Untungnya, mastitis subklinis bisa dideteksi dengan alat sederhana dan murah, yaitu California Mastitis Test (CMT). Cukup ambil sampel susu dari tiap kuartir, campur dengan reagen CMT di paddle, lalu goyang perlahan. Jika campuran mengental atau menggumpal, itu tanda sel somatik tinggi dan ambing sedang bermasalah. Pemeriksaan CMT rutin sebulan sekali untuk seluruh sapi laktasi merupakan salah satu investasi termurah yang bisa dilakukan peternak.
Dampak Mastitis pada Sapi
Kerusakan yang ditimbulkan mastitis pada tubuh sapi bersifat serius dan sering kali tidak bisa dipulihkan. Di dalam ambing terdapat jutaan kantong kecil bernama alveoli, tempat susu sebenarnya diproduksi. Ketika radang berlangsung, sel-sel alveoli ini rusak dan mati. Masalahnya, jaringan yang mati tidak digantikan oleh jaringan penghasil susu yang baru, melainkan oleh jaringan ikat atau jaringan parut yang sama sekali tidak bisa memproduksi susu. Artinya, meskipun infeksinya nanti sembuh, kapasitas produksi kuartir tersebut sudah berkurang selamanya. Pada kasus berat, saluran susu bisa tersumbat total sehingga kuartir menjadi buntu dan tidak bisa diperah lagi seumur hidup sapi itu.
Dampaknya tidak berhenti di ambing. Sapi yang menderita mastitis mengalami nyeri hingga nafsu makannya turun. Sapi enggan bergerak, dan kondisi tubuhnya menurun. Pada mastitis yang disebabkan bakteri coliform, racun bakteri (endotoksin) dapat masuk ke aliran darah dan mengganggu kerja hormon reproduksi. Akibatnya sapi menjadi sulit birahi, kawin berulang tidak jadi-jadi, jarak beranak (calving interval) memanjang, dan pada kasus tertentu bisa terjadi keguguran. Satu periode laktasi berikutnya tertunda, dan ini adalah kerugian yang jarang dihitung.
Pada akhirnya, sapi dengan ambing yang sudah rusak parah atau yang berulang kali terkena mastitis biasanya harus diafkir lebih cepat. Sapi yang seharusnya masih produktif sampai laktasi keenam atau ketujuh terpaksa dijual lebih awal. Peternak kehilangan sapi yang sudah terbukti bagus, dan harus mengeluarkan biaya besar untuk membeli penggantinya.
Dampak Mastitis pada Susu
Banyak peternak mengira susu dari sapi mastitis subklinis “masih aman karena kelihatan normal”. Kenyataannya, susu tersebut sudah berubah, baik jumlah maupun mutunya.
Dari sisi jumlah, penurunannya jelas terjadi. Setiap kali angka sel somatik berlipat ganda di atas ambang 200.000 sel/mililiter, produksi susu turun sekitar 2,5%. Pada sapi dengan SCC yang sangat tinggi, tanpa diketahui peternak, penurunan produksi bisa mencapai 20-30% dibanding potensi sebenarnya.
Dari sisi mutu, perubahannya lebih rumit. Ketika ambing meradang, dinding pembuluh darah menjadi bocor sehingga komponen darah merembes masuk ke dalam susu, dan sebaliknya komponen susu ikut terbuang. Kadar laktosa menurun, padahal laktosa adalah penentu rasa manis alami susu. Kadar kasein menurun, padahal kasein adalah protein utama yang dibutuhkan untuk membuat keju. Sementara itu natrium dan klorida meningkat, sehingga susu terasa agak asin dan pH-nya naik mendekati pH darah.
Akibat praktisnya langsung terasa di ember dan di tempat penampungan. Susu mastitis menjadi tidak stabil dan gampang pecah ketika dipanaskan atau ketika diuji dengan alkohol di koperasi. Kadar lemaknya menurun, dan enzim lipase yang meningkat membuat lemak yang tersisa cepat tengik sehingga muncul bau dan rasa apek. Jumlah bakteri dalam susu (TPC) ikut melonjak, sehingga daya simpannya lebih pendek. Bagi pengolah, rendemen menjadi turun, waktu penggumpalan memanjang, dan tekstur produk (keju atau yoghurt) menjadi lembek dan mudah hancur.
Ada satu risiko lagi yang sangat sering diremehkan: residu antibiotik. Susu dari sapi yang sedang diobati mastitis mengandung sisa obat dan wajib dibuang selama masa henti obat (withdrawal time), umumnya 3-5 hari tergantung jenis obat.
- Jika susu ini nekat disetorkan, satu ember saja bisa mencemari seluruh tangki koperasi. Akibatnya, susu satu kelompok peternak bisa ditolak pabrik.
- Jika susu diolah menjadi yoghurt atau keju, starter bakterinya gagal tumbuh.
- Jika dikonsumsi, konsumen berisiko mengalami alergi serta ikut mendorong munculnya bakteri kebal antibiotik.
Menghitung Kerugian yang Sebenarnya
Jika kita hitung-hitungan, mastitis sangat merugikan peternak sapi perah dari berbagai arah:
- Susu yang hilang setiap hari karena jaringan ambing rusak.
- Susu yang terpaksa dibuang selama masa pengobatan.
- Biaya obat, dokter hewan, dan waktu ekstra untuk merawat sapi sakit.
- Potongan harga atau penolakan setoran dari KUD karena kualitas susu (SCC, TPC, uji alkohol) yang buruk.
- Kerugian reproduksi akibat sapi sulit bunting.
- Biaya besar untuk membeli sapi pengganti karena afkir dini.
Hal terpenting yang wajib kita ingat, 70% dari total kerugian ini berasal dari kasus subklinis yang tidak pernah kita lihat dan obati. Mengeluarkan uang untuk obat memang terasa berat, tapi membiarkan susu hilang berliter-liter setiap hari dari sapi yang “seolah tampak sehat” justru bisa memicu kerugian yang lebih besar bagi usaha peternakan kita.
Karena kerusakan yang ditimbulkan sering kali permanen, langkah terbaik yang bisa kita ambil bukanlah bersiap mengobati, melainkan mendisiplinkan diri untuk mencegah. Sebagian besar kasus mastitis bisa dicegah dengan tindakan sederhana yang tidak memerlukan biaya besar. Ke depannya kita akan membahas tentang tindakan pencegahan yang perlu dilakukan.