
Masa pasca kolostrum juga masuk dalam fondasi bagi kesehatan jangka panjang dan produktivitas sapi di masa depan. Setelah melewati masa kritis dengan pemberian kolostrum, tantangan peternak berikutnya adalah memastikan pedet tumbuh optimal hingga masa sapih. Manajemen susu pada masa awal sangat menentukan kesiapan saluran pencernaan anak sapi untuk menyerap nutrisi di kemudian hari.
Masa Transisi (2-6 hari)
Setelah pemberian kolostrum pertama selesai, pedet sebaiknya tidak langsung diberikan susu utuh biasa. Berikan susu transisi pada pedet. Susu transisi merupakan susu hasil pemerahan ke-2 hingga ke-6. Keunggulan susu ini dibandingkan pakan cair lain, antara lain:
- Mengandung nutrisi (protein, lemak, vitamin, mineral) dan faktor imun yang lebih tinggi dari susu utuh.
- Faktor pertumbuhan (seperti IGF-I dan II) dalam susu transisi berperan penting dalam mengatur perkembangan mukosa usus, sintesis DNA usus, dan meningkatkan kapasitas penyerapan glukosa.
- Meskipun setelah 24 jam usus anak sapi sudah “tertutup” (tidak bisa lagi menyerap antibodi ke dalam aliran darah), pemberian susu transisi tetap memberikan perlindungan lokal di dalam saluran pencernaan terhadap pathogen.
- Anak sapi yang langsung diberikan susu utuh setelah kolostrum pertama memiliki massa saluran pencernaan yang lebih kecil dan perkembangan vili usus yang kurang baik dibandingkan mereka yang diberikan susu transisi selama 3 hari.
- Menambahkan bubuk kolostrum ke dalam susu pengganti (milk replacer) selama 14 hari pertama telah terbukti meningkatkan pertumbuhan, mengurangi hari kejadian diare, serta menurunkan penggunaan antimikroba.
Pilihan Sumber Pakan Cair Utama
Peternak perlu memutuskan sumber pakan cair selanjutnya dengan pertimbangan berikut:
| Sumber Pakan | Kelebihan | Kekurangan / Risiko |
| Susu Pengganti (CMR) | Nutrisi konsisten dan seimbang, serta minim risiko penularan penyakit (seperti Johne’s disease). | Harus memilih berbasis protein hewani agar mudah dicerna. |
| Susu Utuh (Whole Milk) | Kualitas nutrisi alami yang sangat tinggi. | Lemak tinggi bisa membuat pedet malas makan konsentrat Pedet berisiko diare jika tidak higienis. |
| Susu Mastitis | Hemat biaya (sisa pengobatan). | Sangat tidak disarankan karena berisiko menularkan bakteri patogen ke pedet. |
Teknik Pemberian Pakan Cair
Cara pemberian sangat menentukan efektivitas penyerapan nutrisi. Karena itu, teknik pemberiannya harus baik:
- Berikan susu dalam kondisi hangat (sekitar 37°C) agar identik dengan suhu tubuh dan mudah dicerna.
- Gunakan botol dot daripada ember. Isapan pada dot merangsang refleks esophageal groove, sehingga susu langsung menuju abomasum (perut sejati) dan tidak masuk ke rumen yang belum berfungsi.
- Semua peralatan harus dicuci bersih dan disucihamakan (desinfeksi) setelah digunakan untuk mencegah wabah diare.
- Sebaiknya pasteurisasi susu utuh (whole milk) terlebih dahulu agar bakteri patogen di dalamnya mati.
Perkenalan Pakan Padat & Air
Agar pedet cepat mandiri dan siap disapih, rumen harus dirangsang sejak dini. Pengenalan calf starter (konsentrat khusus pedet) mulai dilakukan sejak minggu pertama untuk mempercepat perkembangan rumen pedet. Berikan calf starter dalam jumlah kecil setiap hari. Tambahkan jumlah pemberian secara periodik hingga pedet menginjak usia/bobot badan sapih.
Pedet juga perlu dikenalkan dengan air bersih sejak usia 3 hari. Pastikan air minum bersih selalu tersedia secara ad libitum (bebas setiap saat). Air ini sangat penting untuk proses fermentasi di dalam rumen pedet. Air yang dicampur dalam susu tidak dihitung sebagai asupan air untuk perkembangan rumen.