
Sering kali, ketika efisiensi reproduksi di peternakan sapi perah menurun—ditandai dengan maraknya kasus kawin berulang (repeat breeding) atau keguguran (abortus). Hal pertama yang disalahkan biasanya adalah kualitas semen, keahlian inseminator, atau faktor pakan. Namun, ada satu faktor penting yang sering luput dari perhatian, yaitu biosekuriti dan higienitas sistem manajemen reproduksi.
Saluran reproduksi sapi perah, terutama pasca-melahirkan (post-partum), adalah organ yang sangat rentan terhadap kontaminasi mikroba patogen. Tanpa protokol kebersihan yang ketat, segala upaya peningkatan genetik dan perbaikan nutrisi akan menjadi sia-sia.
Biosekuriti Menghalau Penyakit Menular Reproduksi
Penyakit menular yang menyerang organ reproduksi seperti Brucellosis, Bovine Viral Diarrhea (BVD), Infectious Bovine Rhinotracheitis (IBR), dan Leptospirosis dapat menaikkan Calving Interval peternakan, bahkan berisiko sapi harus diafkir. Protokol biosekuriti ketat yang wajib diterapkan meliputi:
- Karantina dan skrining sapi baru. Jangan pernah langsung memasukkan sapi dara atau induk baru ke dalam kelompok utama tanpa masa karantina minimal 14–30 hari. Lakukan uji darah (skrining) untuk memastikan sapi bebas dari Brucellosis dan penyakit reproduksi lainnya.
- Batasi akses pengunjung. Alas kaki dan pakaian tamu (termasuk pedagang pakan atau pembeli pedet) dapat menjadi vektor pembawa kuman, sehingga perlu disediakan footbath (bak celup kaki) dan sprayer (alat semprot) berisi desinfektan di gerbang masuk kandang.
- Hindari perkawinan alami sembarangan. Jika terpaksa menggunakan pejantan (bukan IB), pastikan riwayat kesehatan pejantan tersebut benar-benar bersih dari penyakit menular seksual.
Higienitas Kandang Melahirkan (Kandang Partus)
Proses melahirkan adalah momen di mana rahim sapi terbuka lebar dan kehilangan proteksi alaminya. Kandang melahirkan yang kotor adalah lokasi utama terjadinya kasus metritis (infeksi rahim) kronis. Karena itu, alangkah baiknya jika disediakan kandang khusus. Sapi yang akan melahirkan dipindahkan ke kandang khusus melahirkan yang bersih, kering, dan memiliki ventilasi baik. Hindari lantai yang becek dan penuh tumpukan feses.
Agar alas kandang terjaga bersih dan hangat, gunakan serbuk gergaji atau bagasse yang bersih sebagai alas. Segera ganti alas tersebut setelah terkena cairan ketuban atau darah kelestarian.
Setelah pedet lahir dan plasenta keluar, bersihkan area belakang tubuh induk (vulva dan ekor) dengan air hangat dan antiseptik ringan. Hal ini untuk meminimalkan risiko infeksi pada rahim, karena infeksi rahim yang didapat saat melahirkan akan memperpanjang masa involusi uteri (pemuilhan rahim). Akibatnya, sapi akan terlambat menunjukkan berahi pertama atau rahimnya terlalu kotor (misalnya berisi nanah) untuk menerima embrio baru.
Higienitas Saat Pelaksanaan Inseminasi Buatan (IB) dan Medis
Petugas IB (inseminator) bisa menjadi penular penyakit jika tidak disiplin menjaga kebersihan tangan dan peralatannya. Saluran reproduksi atas (uterus) adalah area yang steril. Memasukkan bakteri ke dalamnya saat IB sama saja dengan menggagalkan kebuntingan sapi. Protokol bersih saat IB, antara lain:
- Sebelum insemination gun dimasukkan, seka vulva sapi dengan tisu bersih. Jangan menyeka secara bolak-balik agar kotoran tidak menyebar kemana-mana.
- Gunakan glove (sarung tangan rektal) yang baru untuk setiap sapi. Penggunaan glove berulang untuk beberapa sapi adalah jalur penularan penyakit antar-ternak.
- Jika kondisi lingkungan kandang sangat berdebu atau kotor, pertimbangkan penggunaan teknik double sheath (pelindung tambahan pada gun) untuk memastikan ujung gun tetap steril hingga melewati serviks.